prevnext

Nikmatnya Kepiting Bakau Budidaya Lokal

Balebengong.net  Oleh Katrin Widodo

Pengen menikmati kepiting segar?  Tak usah jauh-jauh.

thumbnailPara penggemar kepiting kini bisa menikmati kepiting bakau kualitas super hasil budidaya Kelompok Nelayan Wanasari Tuban, Kuta secara fresh. Calon pembeli bahkan bisa memilih kepitingnya bersama nelayan-nelayan dari Keramba Tancap kapan saja saat air surut. Usaha budidaya ini tidak mengenal musim panen raya.

Dirintis dari tahun 2009, teknik budidaya kepiting bakau dalam Keramba Tancap adalah teknik unggulan yang telah melalui proses trial and error selama enam bulan. Usaha ini digagas dan dipelopori oleh Made Sumasa, Ketua Kelompok Nelayan, yang mengklaim tekniknya sebagai yang pertama di Bali.

Keramba Tancap mengutamakan konsep budidaya yang tidak merusak alam, memberdayakan bambu sebagai kerangkanya. Agar kepiting tidak merayap keluar, keramba ini dilengkapi dengan pelicin terbuat dari semacam karpet plastik dan stopper yang terbuat dari jaring nilon.

Walaupun sudah berjalan empat tahun, para nelayan Wanasari masih mendatangkan bibit kepiting bakau dari Probolinggo, Banyuwangi, Sulawesi, maupun Kalimantan untuk digemukkan dalam keramba tancap. Menurut Agus Diana, sekretaris Kelompok Nelayan Wanasasri, perlu empat atau lima bulan agar kepiting bakau baru siap jual. Idealnya, kepiting bakau berukuran 400-500 gram paling enak dinikmati.

Kepiting Super Hutan BakauKepiting bakau yang dibudidayakan ini mempunyai empat warna cangkang berlainan yang membedakan kualitas rasa dan harga. Warna merah atau hitam untuk jenis standar sedangkan warna biru atau hijau untuk kualitas super.

Harga kepiting bakau, dengan warna cangkang merah atau hitam, berkisar Rp 80 ribu sampai dengan Rp 150 ribu per kilo tergantung ukurannya, untuk warna cangkang biruatau hijau di atas Rp 100 ribu sampai Rp 170 ribu per kilo, sedangkan Kepiting Soka harga berkisar antara di atas 125 -200 per kilo.

Makanan kepiting bakau ini adalah ikan ricah, sebutan untuk segala jenis ikan yang sudah dipotong-potong kecil, contohnya ikan kucing atau ikan boso-boso, yang dijaring oleh para nelayan dari pesisir. Ceker dan kepala ayam hasil limbah pemotongan ayam yang dipotong kecil-kecil juga bisa dijadikan pakan kepiting bakau. Setelah berukuran 400-500 gram, kepiting pun siap dipanen dan dinikmati.

“Kepiting bakau paling enak diolah menjadi Kepiting Kuah bumbu Bali, menggunakan bumbu magenep dan blimbing wuluh dalam rebusan sekitar 30 menit, atau dibakar, lalu dimakan dengan saos,” kata Agus Diana. Hmmm, bikin ngiler..

One Response

  1. agusdiana says:

    Nice, it must be try to come here

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>